Film “Thor: Ragnarok”, Hidup adalah tentang Perubahan

Akhir pekan kemarin, saya dan anak-anak menonton film Thor: Ragnarok. Sudah lama kami menunggu film ini diputar.

Sebelum menonton, saya agak heran begitu melihat mengapa di posternya, rambut Thor jadi pendek. Setelah menonton, barulah ketahuan alasannya. Ketika rambutnya akan dipotong selama film itu, saya sempat kuatir kekuatannya akan berkurang seperti Samson. Ternyata tidak.

Tapi ketika Thor bertarung dengan Hela, sang dewi kematian, dan Hela menghancurkan palu Thor, saya pun tercengang. Apakah kekuatan Thor akan hilang bersama kehancuran palu itu?

Ketika Thor kehilangan palunya, dia mungkin juga merasa kehilangan kekuatannya. Padahal, bukan di situ letak kekuatannya yang sebenarnya. Itu hanya senjata. Hanya alat. Sarana.

Tanpa palu Mjolnir itu, Thor pada dasarnya sangat kuat dan cepat. Thor adalah salah satu Asgardian terkuat dalam hal potensi kekuatan (raw power). Dengan palu itu, kekuatan dan kelincahan alami Thor ditingkatkan sampai batas tertentu, tapi pada dasarnya Thor sangat kuat (extremely durable).

Saya pikir, Thor yang terkenal dengan senjata palunya, mungkin saja sempat merasa lemah atau ‘telanjang’ tanpa palu itu. Ibarat orang jika tak mengenakan jam tangan, atau tidak memegang ponsel satu hari saja, rasanya ada yang kurang.

Kita juga mungkin pernah merasa bahwa kekuatan kita ada pada material, barang-barang atau harta kita, tapi sesungguhnya bukan. Itu hanya sarana. Kekuatan itu ada pada diri kita. Kepribadian kita. Apapun bentuknya.

Film ini memang film laga, tapi sangat saya suka, sebab banyak dialog atau adegan yang kocak yang dari awal sudah membuat saya terpingkal-pingkal.

Selain joke-joke dan keseruan pertarungan dan jalan cerita yang tak terduga, juga akting bagus dari tokoh-tokohnya, banyak hikmah yang bisa dipetik dari film ini.

Contohnya…

Ada orang seperti Valkyrie, yang mencoba melarikan diri dari masa lalu dengan hidup bermabuk-mabukan, tak berani menghadapi kenyataan, walaupun pada akhirnya dia berani menghadapi mimpi buruknya.

Kalaupun kita punya kekuatan, jangan main pukul sembarangan seperti Hulk yang mencoba menghajar Surtur, monster api, yang bisa menghanguskannya dalam sekejap. Pikir dulu sebelum bertindak. Ukur dulu kemampuan kita.

Lalu Thor, yang menemukan dirinya, bahwa kekuatannya ada pada dirinya, bukan pada palunya. Dan bahwa sebuah negeri itu bukanlah tempatnya, tapi manusianya.

Lalu, yang paling saya sukai adalah, seperti ucapan Thor kepada adiknya, Loki: “

Hidup ini adalah tentang pertumbuhan dan perubahan

, tapi kenapa kau tetap sama saja?”

Ada orang yang seperti Loki, tak mau berubah, tetap pengkhianat, egois dan tricky, hanya memikirkan kepentingan dirinya sendiri. Sesaat kita merasa bisa memercayainya tapi rupanya dia tetap mengkhianati kita.

Saya setuju bahwa,

memang seharusnya dalam hidup ini kita harus mengalami perubahan positif, bertransformasi terus-menerus menjadi orang yang lebih baik, lebih dewasa, lebih matang, lebih berguna, makin positif, dan semakin menyerupai imej Pencipta kita.

Kesimpulannya, kami sangat puas menonton film ini, tak percuma penantian ‘panjang’ kami. Tak sabar menunggu film berikutnya.

-*-

0
0 Likes

Mino Situmorang

A mother.wife.writer.fin-acct Mgr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest