Film ‘Ballerina’, Tentang Usaha Menggapai Impian

Film Perancis-Kanada ini berkisah tentang seorang gadis kecil yatim piatu bernama Felicie, bersama temannya, Victor, dengan latar belakang tahun 1880an.

Keduanya melarikan diri dari panti asuhan di desa Brittany, ke Paris. Felicie suka menari dan ingin menjadi ballerina, sedangkan Victor bercita-cita menjadi penemu.

Awalnya Felicie hanya bisa menjadi pembantu seorang Cleaning Service wanita bernama Odette, dan Victor menjadi seorang office boy di bengkel Gustave Eiffel. Kemudian dengan identitas palsu (sebagai Camille), Felicie mendapat kesempatan untuk ikut audisi di sekolah ballet terkenal, untuk mendapatkan peran Clara di The Nutcracker pada Opera Ballet Paris.

Felicie menghadapi banyak tekanan, keletihan, kerja keras, kegagalan, kepahitan, penolakan dan tantangan. Tapi berkat kerja keras dan kemauan yang besar, ditambah bantuan Odette, dia akhirnya berhasil.

Apa yang saya fokuskan pada film ini adalah dua hal berikut ini:

Pertama.
Ibu Camille, menginginkan anaknya menjadi ballerina terkenal. Dia sampai menyogok orang agar anaknya bisa mengikuti audisi itu. Camille pun berusaha keras untuk memenuhi impian ibunya itu. Dia sendiri tak ingin menjadi ballerina. Itu bukan impiannya. Dia hanya ingin mengikuti perintah ibunya.

Betapa banyak orangtua yang seperti ibu Camille. Orangtua yang memaksakan anak, misal untuk ikut les ini itu, ambil jurusan ini itu, bahkan memilihkan jodoh, dengan alasan: orangtua lebih tahu yang terbaik buat anak.

Apakah anda pernah begitu? Sayakah salah satunya? Yang memaksakan mimpi kita pada anak, padahal dia tidak menginginkannya, dan tanpa sadar membuat anak menderita, tidak bahagia. Kita pun sebagai orangtua bisa menjadi tidak sejahtera, mungkin oleh rasa bersalah, jika semuanya berakhir tidak seperti yang diharapkan.

Melihat ibu Camille, saya jadi ingat seorang figur terkenal yang memaksakan anaknya mengikuti jejaknya padahal anaknya mungkin tidak menyukai bidang itu dan tidak capable. Kasihan sekali anak itu. Kasihan sekali menjadi bahan celaan orang. Tanpa disadari, ambisi orangtua bisa menjadi neraka atau racun bagi anaknya.

Kedua.
Seperti Felicie dan Victor, milikilah passion. Felicie memiliki keberanian untuk mengikuti hasrat (passion)nya dan bekerja keras untuk meraih mimpi dengan membuatnya menjadi kenyataan.

Tekad yang besar, latihan, usaha keras dan bimbingan ahli, adalah kunci kesuksesan.

Tak ada impian yang bisa dicapai dengan mudah. Jika terlalu mudah, mungkin itu bukan impian, melainkan kebetulan. Hahaha

-*-

0
0 Likes

Mino Situmorang

A mother.wife.writer.fin-acct Mgr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest