Don’t Judge My Cover?

Don’t judge the book by it’s cover.

Peribahasa ini sering dijadikan dalih oleh kalangan muda jika dikritik mengenai cara mereka berpakaian dalam ruang ibadah. “Yang penting kan, hatinya,” kata mereka. Apakah argumen ini bisa dibenarkan?

Masalah cara berpakaian dalam ibadah adalah salah satu isu yang perlu menjadi perhatian, terutama dalam gereja suku (contohnya HKBP).

Jika dibandingkan dari cara berpakaian, memang terlihat sangat kontras antara jemaat di daerah dengan jemaat di kota besar, terutama pada kalangan mudanya. Contohnya, di kota besar, tak jarang kita lihat pemudi yang memakai pakaian yang terbuka atau minim di dalam ruang ibadah gereja.

Apa masalahnya?

Alkitab mencatat bahwa asal muasal manusia mulai berpakaian adalah ketika mereka jatuh ke dalam dosa (Kejadian 3:7). Sebelumnya disebutkan dalam Kejadian 2:25 bahwa manusia itu dalam keadaan telanjang dan tidak merasa malu. Bahan pakaian pertama yang mereka gunakan adalah daun pohon ara, yang mereka gunakan untuk membuat cawat ketika mereka sadar akan ketelanjangannya.

Pakaian lengkap yang pertama digunakan manusia adalah buatan Tuhan sendiri dari kulit binatang (Kej. 3:21). Ini menunjukkan perlu adanya korban untuk menghasilkan pakaian bagi manusia setelah jatuh ke dalam dosa. Dalam bahasa Ibrani, kata yang digunakan adalah kethon yang berarti selembar kemeja sederhana, yang kemudian berkembang menjadi pakaian rakyat secara umum.

Pakaian kemudian berkembang dari berbagai bahan dan model, tetapi kemudian Tuhan memberikan satu prinsip dalam berpakaian yaitu: Seorang perempuan janganlah memakai pakaian laki-laki dan seorang laki-laki janganlah mengenakan pakaian perempuan, sebab setiap orang yang melakukan hal ini adalah kekejian bagi TUHAN, Allahmu. (Ulangan 22:5).

Jika ditarik lebih umum maka sedari awal Alkitab sudah menentang adanya LGBT (berpakaian saja tidak boleh, apalagi bergaya-gaya transgender).

Di dalam Perjanjian Baru, Tuhan Yesus dalam salah satu perumpamaanNya mengkritik cara berpakaian yang tidak pantas (Mat. 22 : 11-12). Seorang yang hadir dalam jamuan raja dan ditemukan tidak berpakaian pesta, akan mendapat hukuman dari sang raja. Memang banyak tafsiran mengenai apa makna pakaian di sini, tetapi dari prinsip umum bisa digambarkan bahwa orang yang tidak berpakaian pesta adalah orang yang tidak menghargai yang empunya pesta tersebut.

Rasul Paulus juga memberikan prinsip dalam berpakaian, yaitu : Berpakaian dengan pantas, sopan dan sederhana (1 Tim. 2:9).

Dari uraian di atas, bisa kita tarik tiga prinsip dalam berpakaian, sebagai berikut:
1. Jangan menggunakan pakaian yang berlawanan jenis (Ul. 22:5)
2. Berpakaian adalah bentuk penghormatan kita kepada orang lain terlebih kepada Tuhan (Mat. 22: 11-12)
3. Berpakaianlah dengan pantas, sopan dan sederhana (1 Tim. 2:9)

Kita memang memiliki kebebasan dalam memilih busana, tapi gunakanlah kebebasan itu sesuai tempatnya dengan bijaksana, sebab kita juga harus mempertanggungjawabkan kebebasan kita.

Martua H. Sianipar
Alumni UI dan UPH/ Kary. Swasta/Majelis HKBP Cinere

0 Likes

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This