Bersikap Sesuai Umur

Kisah ini sebenarnya tidak lucu. Tapi saya memilih menganggapnya lucu saja. Kenapa?

Kemarin malam, sepulang kantor saya harus mencuci baju anak saya, karena kalau dimasukkan ke laundry langganan, akan butuh beberapa hari, kuatir tidak sempat diambil untuk dipakai.

Ruang cuci kami ada di samping dengan pintu tersendiri menuju jemuran. Ketika hendak menjemur, saya tidak menemukan gantungan baju di sana sehingga saya mau masuk lagi, dari pintu ruang utama supaya lebih dekat mengambil hanger ke ruang atas.

Tapi pintunya terkunci. Saya ketuk dan minta tolong anak saya membukanya. Tak saya duga anak saya yang kelas dua SD itu menjawab begini: “Siapa suruh Mama keluar.”
Bukannya membuka pintu, dia malah menyalahkan saya.

Ya sudah, saya pikir. Akhirnya saya balik lagi berjalan memutar dari ruang samping untuk masuk ke rumah. Rupanya anak saya sedang bad mood, berbaring-baring karena sakit kepala.

Kalau dipikir-pikir lucu juga jawaban anak saya itu. Siapa suruh saya keluar. Betul juga sih. Harusnya saya tadi masuk dari samping saja atau tadi siapkan hanger sebelum menjemur pakaiannya. Tapi apa susahnya coba, dia membuka saja pintunya. Lebih cepat beres.

Yang lucu adalah, jika saya mau berdebat, saya akan jawab: “Kan Mama keluar karena mau jemur bajumu.”
Kan saya keluar karena mencuci bajunya. Saya keluar untuk kepentingannya. Tapi dia malah menyalahkan saya, bukan menolong saya. Bukan mempermudah keadaan, dia malah menyalahkan dan mempersulit saya.

Saya benar-benar tertawa. Karena saya teringat seseorang dengan pola yang sama, kemarin lusa.

Jadi dalam sebuah komunitas kami, seseorang bernama Z ditunjuk menjadi ketua panitia sebuah acara. Ada orang lain ditunjuk untuk membantu tapi tak mau. Lalu saya ditunjuk dan juga si Y. Saya sadar kapasitas karena akhir tahun sangat sibuk di kantor, ketika ditunjuk jadi panitia saya langsung menolak. Tapi penolakan itu tak digubris. Keputusan tak bisa diganggu-gugat.

Sekian lama tak ada pergerakan kami, tiga orang panitia ini. Saya dan Y karena sibuk, berpikir lebih baik menunggu komando si Z. Kami mengingatkan, tapi tiap kali disinggung dia selalu bilang merasa bukan panitia dan tak mau mengerjakan.

Lalu akhirnya kepala komunitas menanyakan perkembangan tugas kami. Saya dan Y pun mulai melakukan tugas walau si Z tak peduli. Padahal kami sama-sama sedang sangat sibuk di kantor. Kami berpikir si Z ditunjuk jadi ketua karena kapasitasnya lebih fleksibel dalam waktu karena Z memang tidak bekerja di kantor. Tapi tiap kali ditanya, dia tetap tak mau mengerjakan.

Akhirnya saya koordinasi dengan Y dan berusaha mengerjakan semampu kami, dan kami sempat bingung karena kalau tidak dikerjakan kan dianggap tidak bertanggung-jawab, tapi jika dikerjakan pun rasanya nggak enak, karena bisa saja dianggap melangkahi ketua. Seseorang menyarankan kami tetap mengerjakan dan kami putuskan tetap menginformasikan hal itu pada si Z.

Akhirnya kami bertiga bertemu. Saya menunjukkan rencana kegiatan tersebut pada si Z. Sungguh tak disangka, responnya demikian;
Ini kan nggak enak!
Kok di sini sih!
Kok tanggal segini sih!
Kok nggak tahun depan aja sih…?!
Siapa suruh ini…?!
Bla bla bla…

Segala macam komentar keluar tanpa ada ucapan apresiasi sedikitpun. Semua ucapannya hanya kritik
tapi dari dia sendiri pun tak ada ide atau tindakan, perencanaan apapun atau keputusan. Bukannya mempermudah, dia malah mencari perdebatan, dan mempersulit komunikasi.

Kalau dipikir-pikir, lucu juga, sebab saya kan telah mengerjakan bagian/tugas saya, plus juga membantu tugasnya sebagai ketua, di antara segala kesibukan kantor mpot-mpotan mengambil alih tugas yang diabaikannya. Tapi begitulah responnya.

Si Y menghibur dan menenangkan saya, dan merasa tidak enak sebab dia tahu saya sudah repot sekali mengerjakan perencanaan itu. Saya tidak marah. Saya malah tertawa-tawa. Saya tidak berhenti, tetap melaporkan tugas itu pada kepala komunitas.

Hal ini mengingatkan saya pada respon anak saya yang kelas dua SD tadi.

Dan saya tertawa dalam hati. Terkadang memang kita bisa bercermin pada anak-anak. Kita mungkin bisa menilai sikap kita dengan memerhatikan sikap anak. Mungkin kelakuan kita tak jauh berbeda dengan mereka.

Beda umur, kelakuan sama. Si Z berumur 48 tahun, anak saya berumur 8 tahun. Tapi, responnya sama. Sikapnya sama. Apa yang terjadi selama 40 tahun itu?

Kadang, ketika kita membantu orang lain, bukan respon yang baik yang kita terima.

Saya ambil sisi positifnya saja. Mungkin kita juga pernah seperti itu. Mungkin saya juga pernah begitu.
Mungkin, seperti anak saya, si Z itu hanya sedang bad mood saja.

Semoga itu bukan karakter kanak yang belum terkikis seiring bertambahnya umur. Semoga.

0
2 Likes

Mino Situmorang

A mother.wife.writer.fin-acct Mgr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest