May 30, 2020

Bagai Bangkai Tikus di Tengah Jalan

Sabtu pagi, ketika saya berjalan kaki melewati komplek dekat rumah, saya melihat ada bangkai tikus ukuran jumbo di tengah jalan. Maksud hati saya ingin olahraga dan menghirup udara pagi yang segar, apa daya malah ‘kesamprok’ bangkai tikus!

Spontan saya menutup hidung dan dan membuang muka setelah melihat bangkai tikus yang berauran dan menyebarkan aroma busuk itu. Pemandangan yang tak terhindarkan, sebab tepat berada di depan mata, di tengah jalan. Seketika saya merasa mual dan cepat-cepat melangkah menjauh. Rasanya ingin muntah. Selain merasa mual, saya juga merasa kesal.

Sebenarnya saya sudah sering melihat hal seperti ini. Bangkai tikus di tengah jalan. Tapi kali ini karena langsung di depan mata dan baunya langsung tercium, rasanya lebih kesal (biasanya hanya melihat dari dalam mobil).

Dan pertanyaan saya masih sama.

Mengapa bangkai tikus itu harus dilempar ke tengah jalan?

Selain merusak pemandangan, juga merusak penciuman. Padahal di tepi jalan sudah bagus. Banyak bunga di tepi jalan. Seperti judul sebuah film.

Mengapa tidak dibuang ke tempat sampah, atau dikubur ke tanah, supaya baunya tidak menyebar?  Bukankah tikus itu sudah mati?

Sekali lagi, mengapa, bangkai tikus itu harus ada di tengah jalan?

Apakah agar semakin mati berkeping-keping digilas mobil-mobil yang lewat?

Saya benci tikus. Sumpah, benci sekali. Barang-barang di rumah banyak yang rusak digigiti tikus. Juga di rumah, makanan yang dicuri dan dihabiskan tikus, sering membuat saya emosi. Jadi memang kalau berhasil menangkap tikus dan membunuhnya, ada rasa puas tersendiri.

Tapi, mencium bangkai tikus di depan mata, di tengah jalan, bukan bagian dari kepuasan tersebut, bagi saya.

Bayangkanlah. Jika bangkai tikus itu digilas ban mobil/motor, serpihan daging busuk itu bisa menempel di ban dan baunya pun tertempel, dan semua mobil yang menggilasnya membawa bangkai dan bau itu turut serta sepanjang perjalanan dan pulang ke garasi masing-masing? Apakah memang tujuannya agar semua mobil yang melewatinya ikut menggilasnya dan membawa bau busuk bangkai tersebar ke segala arah? Membawa pulang bau busuk hingga ke rumah kita?

Seorang teman dengan bergurau menanggapi: Ada terbersit, apakah itu perlambang sebagian tabiat orang Indonesia? Melempar topik korban bermasalah ke depan massa, lalu mengumbar aib di depan umum hingga semua orang bebas mencibir, mengumpat, memaki, menghakimi, menggunjingkan, alias menyebarkan bau busuknya kemana-mana?

Contohnya seperti kejadian baru-baru ini di berita, tentang seorang pemuda Indonesia pelaku kriminal kelamin di London. Pemuda itu yang kriminal, tapi berita tentang orangtua dan keluarganya ikut diseret, dibahas seperti dikuliti sampai habis, nyaris tanpa privasi, oleh media dan netijen ‘mahabenar’ dan ‘tak pernah berdosa’?

Tetapi teman saya yang lain berkata: Mestinya, kasih menutupi pelanggaran.

“Kebencian menimbulkan pertengkaran, tetapi kasih menutupi segala pelanggaran. Di bibir orang berpengertian terdapat hikmat, tetapi pentung tersedia bagi punggung orang yang tidak berakal budi” (Amsal 10:12-13).

Hatred stirs up conflict, but love covers over all wrongs.

Mino Situmorang

A Mother.Wife.Writer.Acctnt.

View all posts by Mino Situmorang →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest