AwKarin-Anya dan Labirin Gelap di Dunia Maya

Saat anak atau orang terdekat diberikan akses ke dunia tanpa batas bernama teknologi digital dan Internet, serta tak diawasi pula, mereka terancam bahaya.

***

Anya Geraldine dan Awkarin. Dua nama ini banyak dipergunjingkan masyarakat. Baik lewat media massa maupun media sosial. Keduanya adalah selebritas media sosial, yang dengan aksinya sehari-hari di dunia maya, telah melahirkan banyak penggemar sekaligus haters.

Masalahnya, aksi mereka telah menimbulkan keresahan sebagian masyarakat. Gaya bergaul yang bebas, cara berpakaian yang dianggap tak sesuai norma ketimuran, membuat resah banyak orang. Anya Geraldine dan Awkarin sampai-sampai dipanggil oleh Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Terlepas dari masalah dampak sosial dan psikologi yang ditimbulkan perilaku keduanya (Sebetulnya bukan cuma keduanya, kalau punya waktu cobalah telusuri media sosial, banyak yang seperti mereka) di jejaring sosial, sebetulnya fenomena  AwKarin dan Anya cuma riak permukaan saja.

Apa yang bisa ditawarkan dunia maya atau media sosial, jauh lebih mengerikan ketimbang sekadar mengamati gerak-gerik kedua makhluk cantik itu lalu tersesat dalam langgam keduanya.

Masyarakat abai pada dampak yang bisa ditimbulkan media sosial serta Internet, dan abai pula mengajari anak-anaknya untuk bijak menggunakannya. Mereka tak acuh pada perilaku online orang-orang terdekatnya.

Bagi orangtua, perangkat teknologi (termasuk Internet dan media sosial di dalamnya) dijadikan sebagai umpan agar anak tak keasyikan main di luar, atau jangan-jangan agar anak-anak tak mengganggu aktivitas orangtua.

Padahal, saat mereka diberikan akses pada dunia tanpa batas bernama teknologi digital dan Internet serta tak diawasi pula, anak terancam kecemplung ke dalam labirin gelap, panjang berliku, dan menyesatkan.

Apa saja bahaya yang menghadang anak di labirin yang bisa menyesatkan itu? Banyak! Mulai dari contoh negatif ala-ala Awkarin dan Anya, gaya hidup bebas, sampai yang jauh lebih mengerikan seperti jeratan predator seksual dan kejahatan lainnya.

Alih-alih ikut resah dan marah pada fenomena Awkarin dan Anya, ada baiknya orangtua mulai melihat keseharian anak-anaknya. Seberapa banyak mereka menghabiskan waktunya dengan gadget dan Internet. Apakah lebih banyak ketimbang waktu untuk mengobrol dengan orangtua atau saudara lain?

Bagaimana cara menyikapi masalah ini?

Pertama, patuhilah ketentuan penggunaan media sosial. Bacalah term & condition saat sign-up secara teliti, meski itu bisa membosankan karena panjangnya. Contohnya untuk usia pengguna. Jangan karena ingin anak jadi gaul (atau mungkin supaya anak tak mengganggu aktivitas Anda), anda mengizinkan anak memiliki akun media sosial padahal usianya belum cukup. Facebook misalnya, mensyaratkan penggunanya tak berusia di bawah 13 tahun.

Ingat, situs-situs media sosial akan selalu berasumsi bahwa penggunanya sudah cukup umur sehingga konten-konten yang beredar di dalamnya sudah sesuai dengan batas usia penggunanya. Jadi, kalau memang anak masih di bawah umur, ya jangan dibuatkan akun atau diizinkan punya akun media sosial.

Kedua, orangtua wajib mengawasi aktivitas anak-anak di media sosial dengan menjadi teman mereka. Pegang akses untuk masuk ke akun media sosial anak. Software-software antivirus juga sudah punya fitur parenting untuk mengontrol aktivitas anak di Internet. Manfaatkan itu.

Mungkin ada anak yang risih orangtuanya berada di daftar friendlist atau follower-nya. Tapi orangtua harus menjelaskan dengan baik apa maksud di balik itu semua. Yang penting, orangtua berjanji untuk tak banyak mencampuri urusan anak di media sosial, kecuali itu menjurus dan membahayakan keselamatan mereka.

Selebihnya jadilah pengamat yang diam. Anak-anak akan menyadari bahwa aktivitas mereka dilihat oleh orangtua, mereka akan merasa terlindungi kalau ada yang macam-macam di sana.

Ketiga, perbanyak komunikasi langsung dengan anak dalam berbagai kesempatan. Bikinlah quality time yang banyak dengan mereka. Apakah waktu-waktu sarapan sebelum berangkat sekolah? Atau saat makan malam? Atau pada saat kalian beraktivitas bersama di akhir pekan.

Keempat, tunjukkan! Kalau meminta anak tak sibuk dengan gadget atau media sosial, orangtua juga harus segendang sepenarian. Jangan malah asyik mantengin hape atau laptop ketika bersama anak-anak.

Kelima, jadilah teladan dalam perbuatan baik. Saya percaya, ketika hidup kita memancarkan kebaikan dan terang Kristus secara nyata dalam aktivitas sehari-sehari, khususnya di depan anak-anak kita sendiri, mereka akan baik-baik saja.

Buruanlah, jangan sampai terlambat ya.

 

DEDDY SINAGA

Foto: Pixabay/twinquinn84

 

0 Likes

Deddy Sinaga

Seorang Suami | Ayah | Jurnalis | Arkeolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This