Andai Kenangan bisa Di-obliviate

Salah satu mantra di film Harry Potter yang kemudian ada juga di film Fantastic Beasts and Where to Find Them, yang berkesan bagi saya adalah kata: Obliviate.

Makna mantra OBLIVIATE adalah menghapus ingatan atau memodifikasi memori seseorang.

Dulu, ketika bulan-bulan awal masuk perusahaan baru, saya agak kaget menyadari bahwa hampir tiap tahun ada acara perpisahan di kantor karena tiap tahun ada saja ekspatriat kami yang pindah ke negara lain atau kembali ke Jepang seusai masa tugas di Indonesia. Bahkan pada tahun yang sama kala itu, ada tiga orang sekaligus dalam setahun yang pindah. Saat itu, sekalipun saya baru beberapa bulan bekerja di sana, saya juga turut merasa kehilangan.

Acara perpisahan itu bukanlah hal yang menyenangkan. Jika kita berpisah dengan orang yang hubungannya baik dengan kita, pasti akan merasa sedih dan sangat kehilangan, sekalipun hanya terpisah oleh jarak.

Pernah juga sih, saya merasa acara perpisahan menjadi hal yang sungguh saya tunggu-tunggu, ketika orang yang tidak menyenangkan akhirnya keluar dari perusahaan. Saat itu rasanya kami ingin merayakannya semeriah mungkin, seolah baru terlepas dari cengkeraman setan (ini sih lebay, hahaha).

Awal minggu ini juga kami mengadakan acara perpisahan untuk seorang rekan yang pensiun. Puluhan tahun beliau bekerja, pasti sangat banyak kenangan yang tak terlupakan. Tentu ada yang baik, ada yang buruk. Apapun itu, kami sangat sedih dan kehilangan beliau.

Apa yang unik kala perpisahan?
Kita akan teringat hal-hal major yang pernah kita alami dengan orang tersebut. Jika kebanyakan adalah hal baik, kita akan menyebutnya baik. Dan jika kebanyakan hal buruk pun, kita akan berusaha mengingat hal yang baik-baik, agar kita tak terfokus pada hal buruk tersebut. Sebab mestinya, alangkah baiknya jika, perpisahan adalah saat untuk saling memaafkan dan melupakan hal buruk, dan mengucapkan terima kasih atas segala hal yang pernah kita alami bersama.

Mengapa terima kasih? Sebab seperti kata pepatah, manusia menajamkan sesamanya. Kita belajar dari orang-orang di sekitar kita, baik dalam hal baik atau buruk, diam-diam tanpa sadar kita saling meniru, saling mengamati, saling beradaptasi dan saling mempelajari. Itulah mengapa disebut, lingkungan bisa membentuk dan memengaruhi sikap kita.

Apa yang ingin saya bahas di sini adalah tentang kenangan.

Beberapa tahun lalu, setelah lulus kuliah, seorang teman SMA baru mengaku kesal karena dulu waktu perpisahan SMA, saya tidak ikut acara menginap dengan mereka, padahal sudah saya jelaskan sebelumnya kalau orangtua saya tidak mengijinkan, rupanya ada yang salah menginformasikan. Dia merasa saya ‘pengkhianat’. Pantas saja setelah alumni, dia hilang kontak dengan saya. Andai saya bisa memakai mantra obliviate pada ingatannya akan hal itu, hubungan kami mungkin bisa lebih baik.

Saya ingat, pernah juga ada ucapan saya yang rupanya membuat seorang teman sakit hati, padahal, hal itu memang kenyataan, walaupun kenyataan dan kejujuran itu menyakitkan (walau pada akhirnya dia mendengarnya dari pihak ketiga, sebab saya tidak sanggup mengucapkannya secara langsung di depannya). Sejak saat itu saya menghindari ucapan seperti itu dan menghindari juga orang yang suka membocorkan ucapan seperti itu, hahaha…

Saya pernah punya teman yang selalu merasa punya hak untuk mengomentari orang lain, kadang bertindak melebihi seorang ibu atau saudari tiri, mengucapkan kata-kata yang bisa menyakiti hati orang lain. Tapi jika hal yang sama dilakukan padanya, dia tak bisa terima, dan bisa terjadi perang.

Bukan hanya orang lain, mungkin kita juga pernah melakukan kesalahan atau hal buruk pada orang lain. Mungkin mereka juga tak mudah lupa. Mungkin itu membuat mereka benci pada kita. Hubungan sudah terlanjur buruk. Penyesalan tak ada gunanya.

Andai kita bisa membuat orang lupa akan hal buruk yang kita lakukan pada mereka… Tapi hidup tak semagical itu. Apa yang sudah terjadi, tak bisa diulang atau diralat lagi.

Saya pun menarik kesimpulan sendiri. Berhati-hatilah dengan ucapan dan sikap kita. Karena waktu takkan terulang dan kita bukan ahli sihir yang bisa meng-obliviate memori orang lain.

Mungkin takkan bisa kita cegah orang sakit hati atau kecewa pada kita. Tapi setidaknya kita tak melakukannya dengan sengaja.

Ah ini teorinya saja yang sangat mudah… Prakteknya? Hmmm…

-*-

1 Like

Mino Situmorang

A mother.wife.writer.fin-acct Mgr.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

X

Pin It on Pinterest

X
Share This