Allah Melawat Umat-Nya

Terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya, (Lukas 1:68)

Allah rindu bersekutu dengan manusia ciptaan-Nya. Sejak zaman dahulu Allah selalu menyediakan kesempatan untuk bertemu dengan umat-Nya (Lukas 1:70). Ketika manusia masih di Taman Eden dan belum jatuh dalam dosa, Allah telah membiasakan diri untuk bersekutu dengan Adam dan Hawa.

Ketika mereka jatuh dalam dosa, di situ juga Allah hadir dan menutupi dosa dan ketelanjangan mereka. Sepanjang sejarah, Allah telah hadir dalam berbagai macam cara. Nuh, Abraham, Yakub, Musa dan kelepasan bangsa Israel dari Mesir adalah sebagian kecil contoh Allah yang datang dan hadir dalam hidup orang yang percaya pada-Nya.

Hal ini memperlihatkan bahwa Allah setia dan dapat dipercaya. Dalam kasih-Nya, Allah tetap memperjuangkan yang terbaik bagi manusia, bahkan ketika kita tidak dapat merasakan pemeliharaan-Nya.

Zakharia dan istrinya adalah orang-orang yang saleh dan tidak bercacat. Namun ternyata mereka tidak memiliki anak, bahkan setelah dengan setia berdoa sampai masa tua mereka.

Sepertinya Allah tidak hadir. Sama seperti Allah yang sudah tidak lagi berbicara kepada orang Israel selama lebih dari 400 tahun. Namun ketika Zakharia mendapat tugas menjadi imam di Ruang Maha Kudus, di sanalah ia mendapat lawatan dari Allah, yang membawa berita sangat baik bagi Zakharia dan orang Israel.

Allah sungguh setia dan dapat diandalkan. Ia sudah bekerja bagi kita, masih terus bekerja dan tetap memikirkan yang terbaik bagi kita.

Melawat memiliki arti yang kurang lebih sama dengan berkunjung, bertamu ataupun membesuk. Dalam bahasa Yunani digunakan kata episkeptomai, yang memiliki makna mengunjungi mereka yang membutuhkan, mengamati apa yang menjadi kebutuhan, dan memelihara sampai kebutuhan itu terpenuhi.

Itulah yang selalu dilakukan oleh Allah kita. Dan peristiwa Natal menunjukkan bahwa Ia Imanuel: hadir bersama kita; El-Roi: yang maha melihat; El-Jireh: yang memelihara.

Ketika Allah hadir dan melawat, Ia akan datang dan membawa kelepasan (Lukas 1:68). Allah akan melawat umat-Nya terutama ketika ada kebutuhan yang besar, dan ketika kita sedang mengalami sebuah proses yang sulit. Ketika kita sedang berada dalam sebuah pergumulan yang sulit, maka kita bisa percaya juga bahwa itu adalah saat-saat yang terbaik untuk merasakan jamahan dan lawatan Allah.

Penting bagi kita untuk memiliki hati yang berserah dan bergantung penuh pada Allah. Penting bagi kita untuk melepaskan apapun dalam diri kita yang masih menjadi sandaran kekuatan, apakah sesuatu di dalam kita, ataupun mungkin ada orang-orang tertentu yang selama ini menjadi andalan kita.

Ketika Allah melawat, Ia akan membawa kita dalam jalan menuju damai sejahtera (Luk 1:79). Shalom (Ibrani) atau Eirene (Yunani) adalah kondisi yang utuh, selamat secara penuh, tanpa kekurangan dan sejahtera penuh. Inilah yang sudah dikerjakan Allah melalaui kedatangan anak-Nya, dan terus dinyatakan dalam pengalaman sehari-hari lewat hubungan kita dengan Roh Kudus.

Kita semua membutuhkan lawatan Allah. Lawatan Allah nyata bagi mereka yang memiliki kualitas berikut: (1) Membutuhkan dan mengandalkan-Nya; (2) Percaya dan sabar akan janji-Nya; dan (3) Rela berada dalam proses-Nya.

Semoga kita dapat merasakan lawatan dan kehadiran Allah yang kuat dalam keseharian hidup kita.

 

Paul Lamenggo Atanta

Penulis adalah pelayan di GBI Shine Jogja, pendiri Pelayanan Kawan Tumbuh (Kwantum).

Foto : Burung Camar di Sungai Gangga, Varanasi, India (koleksi pribadi)

0
0 Likes

Sammy Ladh

Just a bastard saved by grace. Studied English literature and Theology. Founder of Yayasan Rumah Impian Indonesia and a humble servant at Shine Jogja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest