Naik Transportasi Publik Yuk

Terkadang kita perlu menyadari bahwa solusi permasalahan perkotaan, seperti kemacetan dan lain sebagainya, jangan semata-mata dibebankan pada otoritas.

 

***

Pagi, 7 Oktober 2016. Commuterline Bogor-Manggarai

Artikel ini saya ketik di dalam commuterline tujuan Manggarai, tempat saya akan transit menuju Stasiun Sudirman. Hari ini ada undangan ke sebuah acara di bilangan Sudirman.

Bukan ini kali pertama saya, seorang commuter, menggunakan transportasi publik ke tempat kerja atau liputan. Saya tak fanatik pada satu macam saja, ekstrem pada transportasi pribadi atau transportasi publik.

Hal sederhana yang mau saya sampaikan, sembari berdiri di dalam gerbong kereta ini, adalah terkadang kita perlu menyadari bahwa solusi permasalahan perkotaan, seperti kemacetan, jangan semata-mata dibebankan pada otoritas.

Kita jangan menjadi warga atau commuter yang manja, seperti anak, yang segalanya minta dilayani. Istilahnya, mari menjadi bagian dari solusi saja yuk, daripada pusing memikirkan kok pemerintah begini, kok pemerintah begitu, kok Ahok begitu.. #eh!

Naik transportasi publik sebagai sebuah pilihan utama adalah bagian dari solusi permasalahan klasik perkotaan macam Jakarta. Kalau kesadaran ini meluas, pelan-pelan soal kemacetan, konsumsi bahan bakar bersubsidi yang melewati kuota, laun akan teratasi sendiri.

Sesederhana itu. Maaf tak bisa bicara lebih panjang dan melengkapinya dengan data berupa observasi, riset, analisis dan sebagainya. Saya ingin.

Tapi seperti yang saya sebut tadi, saya ini sedang berada di kereta api listrik. Lagipula saya sudah hampir turun. Hari ini perjalanan lebih cepat, bebas macet, dan adem pula di dalam gerbong yang berpendingin udara.

Beda seperti biasa kalau saya menyetir mobil atau sepeda motor. Macet, jauh, dan melelahkan.

Mungkin saya hanya beruntung, karena biasanya kereta api sepagi ini akan penuh berjubel. Tapi Keberuntungan itu milik pengguna transportasi publik, bukan yang pribadi, yang tadi saya lihat sudah tumplek blek di jalan raya Lenteng-Pasar Minggu. Kasian. Eh, saya juga kayak mereka ding, kemarin.

Ya udah, yuk ah naik transportasi publik.

DEDDY SINAGA

Foto: Credit atas nama sendiri.

0
0 Likes

Deddy Sinaga

Seorang Suami | Ayah | Jurnalis | Arkeolog

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Pin It on Pinterest